Kamis, 11 Oktober 2012

tugas 2 manager dalam penyusunan anggaran


Hal-Hal Yang Harus di Pertimbangkan Oleh Manajer Dalam Penyusunan Anggaran.
1.    Kondisi Manufaktur.

PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR

 Terpuruknya daya saing tersebut merupakan akibat dari berbagai faktor. Menurut tolok ukur WEF, diidentifikasi 5 (lima) faktor penting yang menonjol. Pada tataran makro, terdapat 3 (tiga) faktor, yaitu: (a) tidak kondusifnya kondisi ekonomi makro; (b) buruknya kualitas kelembagaan publik dalam menjalankan fungsinya sebagai fasilitator dan pusat pelayanan; dan (c) lemahnya kebijakan pengembangan teknologi dalam memfasilitasi kebutuhan peningkatan produktivitas. Sementara itu, pada tataran mikro atau tataran bisnis, 2 (dua) faktor yang menonjol adalah: (a) rendahnya efisiensi usaha pada tingkat operasionalisasi perusahaan; dan (b) lemahnya iklim persaingan usaha.

Menurut catatan IMD, rendahnya kondisi daya saing Indonesia, disebabkan oleh buruknya kinerja perekonomian nasional dalam 4 (empat) hal pokok, yaitu: (a) buruknya kinerja perekonomian nasional yang tercermin dalam kinerjanya di perdagangan internasional, investasi, ketenagakerjaan, dan stabilitas harga, (b) buruknya efisiensi kelembagaan pemerintahan dalam mengembangkan kebijakan pengelolaan keuangan negara dan kebijakan fiskal, pengembangan berbagai peraturan dan perundangan untuk iklim usaha kondusif, lemahnya koordinasi akibat kerangka institusi publik yang masih banyak tumpang tindih, dan kompleksitas struktur sosialnya, (c) lemahnya efisiensi usaha dalam mendorong peningkatan produksi dan inovasi secara bertanggung jawab yang tercermin dari tingkat produktivitasnya yang rendah, pasar tenaga kerja yang belum optimal, akses ke sumberdaya keuangan yang masih rendah, serta praktik dan nilai manajerial yang relatif belum profesional, dan (d) keterbatasan di dalam infrastruktur, baik infrastruktur fisik, teknologi, dan infrastruktur dasar yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat akan pendidikan dan kesehatan.
beberapa permasalahan spesifik di sektor industri manufaktur, yaitu sebagai berikut:

KKN dan layanan umum yang buruk mengakibatkan tingginya biaya overhead. Menurut kajian Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD), pengeluaran untuk berbagai pungutan dan untuk biaya buruknya layanan umum menambah biaya overhead sekitar 8,7 persen – 11,2 persen.

Cost of money yang relatif tinggi, tercermin dari suku bunga yang saat ini sangat tinggi. Pengusaha dalam negeri yang mengandalkan perbankan dalam negeri akan kalah bersaing dengan perusahaan yang modal kerjanya dari luar negeri dengan bunga berkisar 4–6 persen.

Administrasi perpajakan yang belum optimal. Pengusaha menganggap administrasi perpajakan terutama dalam kaitannya dengan restitusi produk-produk industri ekspor sangat tidak efisien. Hal tersebut mengakibatkan daya saing produk ekspor menjadi berkurang karena ketidakefisiensian tersebut dibebankan ke harga jualnya. Selain itu, hal tersebut juga tidak kondusif untuk integrasi antar industri terkait untuk pengadaan bahan antaranya. Pada umumnya mereka memilih untuk impor bahan baku atau produk antara karena sejak awal tidak terkena PPN.

Kandungan impor sangat tinggi. Nilai impor bahan baku, bahan antara (intermediate), dan komponen untuk seluruh industri meningkat dari 28 persen pada tahun 1993 menjadi 30 persen pada tahun 2002. Khusus untuk industri tekstil, kimia, dan logam dasar nilai tersebut mencapai 30-40 persen, sedangkan untuk industri mesin, elektronik dan barang-barang logam mencapai lebih dari 60 persen. Tingginya kandungan impor ini mengakibatkan rentannya biaya produksi terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah dan kecilnya nilai tambah yang mengalir pada perekonomian domestik.

Lemahnya penguasaan dan penerapan teknologi. Nilai tambah industri nasional relatif rendah, hal ini menunjukkan bahwa karakteristik industri manufaktur masih tipe “tukang jahit,” meskipun dalam komposisi ekspor mulai terjadi peningkatan proporsi produk ekspor berteknologi menengah dan tinggi. Kehadiran foreign direct investment (FDI) yang mempunyai potensi sebagai basis untuk alih teknologi belum dapat dimanfaatkan.

Kualitas SDM relatif rendah. Dari hampir 4,2 juta orang tenaga kerja industri dalam 22.894 perusahaan pada tahun 1996, hanya 2 persen berpendidikan sarjana, sekitar 0,1 persen berpendidikan master, dan 0,005 persen (hanya 225 orang) berpendidikan doktor. Sementara itu, intensitas pelatihan yang dilaksanakan oleh industri belum juga menggembirakan. Hasil survei tahun 1990-an menunjukkan hanya 18,9 persen perusahaan di Indonesia melaksanakannya. Di Malaysia, kegiatan yang sama dilakukan oleh hampir 84 persen perusahaan-perusahaannya. SDM dengan kualitas ini akan sulit diharapkan menghasilkan peningkatan produktivitas apalagi inovasi-inovasi yang bermutu untuk teknologi produksinya.

Iklim persaingan yang kurang sehat. Banyak sub-sektor industri yang beroperasi dalam kondisi mendekati ”monopoli”. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya indeks konsentrasi untuk dua perusahaan (CR2). Pada tahun 2002, lebih dari 50 persen kelompok usaha industri memiliki angka diatas 0,50 dan banyak kelompok industri yang angka konsentrasi yang makin besar. Beberapa contoh adalah pada industri tepung terigu, rokok putih, dan kendaraan roda 2. Keadaan ini menyebabkan insentif untuk penurunan biaya produksi menjadi kecil.

Struktur industri masih lemah. Sebagai illustrasi, di industri kendaraan bermotor pada tahun 1997 jumlah produser komponen mencapai 155 perusahaan. Namun hampir semua produsen komponen ini merupakan pemasok lapis pertama. Hal ini menunjukkan lemahnya kedalaman struktur industri nasional otomotif. Sebagai perbandingan, pada tahun yang sama di Jepang ada 350 pemasok lapis pertama, 2.000 pemasok lapis kedua, dan 10.000 pemasok lapis ketiga. Artinya industri nasional sangat terintegrasi secara vertikal.

Peranan industri kecil dan menengah (termasuk RT) masih minim. Industri berskala menengah (20-99 orang tenaga kerja), berskala kecil (5-19 orang tenaga kerja), dan industri rumah tangga (1 – 4 orang tenaga kerja) mempekerjakan dua pertiga tenaga kerja manufaktur di Indonesia. Namun demikian, segmen industri ini menyumbang hanya 5-6 persen dari total nilai tambah manufaktur. Industri kecil dan menengah terkonsentrasi di sub-sektor makanan dan kayu. Industri-industri pada segmen ini umumnya melayani konsumer akhir atau memproduksi komponen untuk ”after sales market”, dengan segmen kelas terendah. Sangat sedikit yang memproduksi bahan baku dan/atau barang intermediate serta memasoknya ke industri hilir. Dengan kondisi ini, industri kecil dan menengah di Indonesia belum berada dalam satu mata rantai pertambahan nilai dengan industri berskala besar.
Sebaran Industri yang terpusat di Pulau Jawa. Unit usaha industri merupakan pencipta kesejahteraan (wealth) terpenting melalui nilai tambah produk-produk yang dihasilkan dan sekaligus mendistribusikannya ke khalayak melalui pekerjanya. Oleh karena itu distribusi dari segmen industri ini juga akan mencerminkan distribusi kesejahteraan yang terbentuk. Menurut data tahun 2002, dari 21,146 usaha industri berskala menengah dan besar, 17.118 atau 80 persen diantaranya berada di Pulau Jawa.
2.    Stabilitas Operasi.

Operasi Pasar Mampu Tekan Stabilitas Harga

Surabaya -  Program operasi pasar yang dilakukan di 133 titik di 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur mampu menekan stabilitas harga kebutuhan bahan pokok di pasar.
"Kami sudah merinci datanya sejak diberlakukannya operasi pasar pada 13 Juli 2012. Secara psikologis, penjual menurunkan harga dan itu berdampak positif bagi konsumen," ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur Budi Setiawan kepada wartawan di Surabaya, Kamis.
Setelah dua pekan berjalan, harga gula dipantau turun Rp700 dan minyak goreng curah mengalami penurunan hingga Rp900. Harg gula pasir yang sebelumnya Rp12.900 per kilogram menjadi Rp 12.200 per kilogram, sedangkan dan minyak goreng Rp11.300 turun menjadi Rp10.400.
Kendati demikian, ia mengakui tidak semua kebutuhan bahan pokok mengalami penurunan. Berdasarkan pantauannya, daging ayam dan telur harganya merangkak naik. Serta ada beberapa kebutuhan pokok lainnya yang harganya tetap.
"Khusus sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan mengalami penurunan harga dan perkembangannya sangat bagus karena harga tidak terlalu liar atau terkendali," tukas dia.
Sampai saat ini, lanjut Budi, Pemprov Jatim sudah mengeluarkan anggaran hingga Rp811 juta. Menurut dia, diprediksi jumlahnya akan terus bertambah karena operasi pasar berlangsung sampai mendekati Hari Raya Idul Fitri 1433 Hijriah.
Khusus untuk dana operasi pasar, pihaknya sudah menyiapkan anggaran Rp5 miliar. Namun jumlah itu akan bertambah seiring dengan kebutuhan di lapangan.
"Kalau membengkak ya tidak masalah, semua demi menekan harga dan pelaksanaan operasi pasar. Kemungkinan bertambah hingga Rp10 miliar, tapi kami sudah mempersiapkannya," kata Budi. 
http://www.antarajatim.com/lihat/berita/92214/operasi-pasar-mampu-tekan-stabilitas-harga

3.    Lingkungan Ekonomi Dan Politik.

Ekonomi Politik Lingkungan.
konsep keamanan menjadi salah satu konsep yang paling sering berubah sesuai dengan perkembangan kehidupan sosial manusia baik dalam tataran lokal, nasional maupun global. Keamanan semakin menjadi sorotan ketika terjadi perubahan yang sangat besar di dalam lingkungan lokal nasionaldan internasional. Perubahan secara substansial yang terjadi di lingkungan internasional/global diawali dengan berakhirnya Perang Dingin, yakni seiring dengan mengemukanya arus globalisasi (baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial-budaya dan keamanan). Sementara dalam lingkup nasional dan lokal, keamanan sangat terkait dengan maraknya konflik antar etnis dan ikatan primordial lainnya di berbagai belahan dunia memunculkan dampak yang sangat dalam bagi diplomasi dan politik luar negeri suatu negara.
Berdasarkan penjelasan diatas, kami mencoba mengklasifikasikan jenis keamanan. Klasifikasi ini di dasarkan pada perkembangan konsep keamanan itu sendiri, selain itu juga berdasarkan perubahan substansial di dunia Internasional. Terdapat dua klasifikasi jenis keamanan.Yang pertama adalah Keamanan Nasional, yang bertujuan untuk melindungi segenap warganya dari ancaman dan memberikan keselamatan pada individu yang berada dalam kedaulatan nasional sebuah negara. Keamanan nasional dapat dilakukan melalui berbagai cara, misalnya diplomasi, penggunaan kuasa ekonomi, militer serta politik. Keamanan nasional sangat berpengaruh terhadap berjalannya sebuah pembangunan nasional. Dengan terciptanya sebuah kondisi yang kondusif maka proses penciptaan dan pembangunan sarana prasarana yang masuk kedalam pembangunan nasional akan menjadi lancar ketika terdapat jaminan akan stabilitas dan keamanan bagi masyarakat dan kedaulatan negara tersebut dari ancaman apapun.
Kebijakan pemerintah dalam melindungi keamanan nasional dapat dilakukan dengan beberapa cara, yang di antaranya adalah 1) penggunaan diplomasi untuk mencari sekutu dan mengisolasi ancaman, 2) menggunakan kuasa ekonomi untuk melakukan atau memaksa kerja sama, 3) menjaga angkatan bersenjata yang efektif, 4) melakukan pertahanan sipil dan kesiapan darurat, 5) memastikan pemulihan cepat dan perbanyakan infrastruktur kritikal, 6) menggunakan jasa inteligen untuk mendeteksi dan mengalahkan atau mencegah ancaman dan espionase, dan melindungi informasi rahasia, dan 7) menjaga budaya nasional yang tidak dikenal atau antinasionalisme, terutama di ruang hiburan utama.
Dengan demikian, bisa dilihat bahwa dalam pencapaiannya, keamanan nasional tidak hanya berdasarkan kekuatan militer saja, akan tetapi juga melibatkan dan mengintegrasikan berbagai macam kekuatan non – militer seperti diplomasi dan melibatkan semua masyarakat dalam politik luar negeri. Pencapaian keamanan nasional yang lebih komprehensif tidak saja melibatkan kebijaksanaan domestik, tetapi juga kebijakan keamanan nasional dan kebijakan luar negeri baik berupa kebijakan bilateral, regional maupun multilateral.
Konsep 'keamanan manusia' (human security) lahir seiring dengan berakhirnya Perang Dingin. Hal ini sangat terkait dengan perubahan pola konflik di dunia, yaitu dengan tampilnya konflik internal sebagai fitur utama (Kaldor: 2001). Maka, berbagai upaya untuk menemukan paradigma keamanan yang baru akhirnya melahirkan konsep human security, yaitu konsep yang menempatkan 'individu' dan bukan 'negara' sebagai pusat perhatian. Belakangan, konsep ini berkembang dengan tidak hanya mengalihkan pusat perhatian dari negara ke individu saja, tapi juga meluaskan ruang lingkup keamanan. Amartya Sen dan Sadako Ogata (CHS: 2003), mengajukan paradigma keamanan manusia yang meliputi 'freedom from want', 'freedom from fear', dan 'freedom to take action on one's own behalf' (Shani, Sato, dan Pasha: 2008)
Perubahan yang terjadi begitu cepat di dalam kawasan dunia internasional saat ini telah banyak mempengaruhi aspek-aspek kehidupan bernegara. Konsep keamanan pun mengalami pergeseran definisi dan lingkup seiring dengan berjalannya proses globalisasi. Terutama di abad 21 saat ini, isu keamanan yang begitu mempengaruhi adalah tentang masalah lingkungan. Masalah lingkungan berkaitan dengan perubahan iklim yang menyimpan bahaya laten bagi keberlangsungan hidup suatu negara. Ini tidak lepas dari perubahan iklim tersebut memiliki hubungan yang erat dengan keamanan suatu negara, termasuk pertimbangan keamanan nasional negara, fokus pada keamanan manusia, peran militer dan diskusi yang mengasumsikan bahwa perubahan iklim bisa memicu konflik kekerasan (Barnett, 2003).Maka dari itu perubahan iklim juga dikatakan sebagai bagian dari isu keamanan yang dihadapi oleh negara saat ini. .
Lingkungan adalah sebuah dimensi ruang yang kita tinggal dan hidup di dalamnya. Tentu saja jika terjadi kerusakan di dalamnya maka seluruh manusia yang hidup di dalamnya akan terkena dampaknya. Sehingga ancaman perubahan iklim tidak hanya berdampak pada wilayah dan komunitas tertentu akan tetapi bahaya ini sudah bersifat global dan mengancam semua masyarakat. Seperti yang diungkapkan oleh Barnett (2003) “climate changes is a security issue for some nation-states, communities and individuals” (Barneet, 2003).
Terdapat hubungan antara ekonomi politik dengan isu-isu degradasi lingkungan.Hal ini sangat terkait dengan hambatan yang muncul dan disebabkan oleh kegagalan pasar. Pada sistem pasar disatu sisi dianggap sebagai bagian dari kebebasan dan keadilan global namun pada sisi yang lain justru menjadi hambatan karena memunculkan persoalan seperti kesenjangan sosial dan eksploitasi terhadap alam demi kepentingan ekonomi. Dalam sistem pasar, ketika masyarakat kelas menengah keatas menjadi kaum yang diuntungkan sementara masyarakat kelas menengah kebawah menjadi korban atas ketidakmampuan mereka menjadi pelaku pasar, maka munculnya kesenjangan sosial yang dapat mengakibatkan ketidakseimbangan sistem ekonomi dan politik karena rakyat yang ternyata tidak tersejahterakan.
Oleh sebab itu para ekonom environmentalist memiliki suatu gagasan tentang ekonomi hijau. Hal ini didasari atas keyakinan terhadap tentang kegagalan pasar “market failure” yang dapat menumbuhkan ketidakpercayaan akan sistem kapitalis karena telah memunculkan persoalan kemiskinan dan ketidakadilan global. Sementara aktivitas-aktivitas ekonomi telah mengakibatkan bermunculannya permasalahan lingkungan seperti krisis ekologi, eksploitasi sumber daya alam yang mengakibatkan pada kelangkaan, hingga berujung kepada isu yang menuntut perhatian khusus warga dunia, yaitu perubahan iklim “climate change” dan pemanasan global “global warming.”
Ekonomi Hijau sendiri menurut UNEP (United Nations Environment Progamme)adalah salah satu upaya peningkatan kesejahteraan manusia dan keadilan sosial, sembari mengurangi risiko lingkungan dan kelangkaan ekologi secara signifikan.Dengan katalain, Ekonomi Hijau dapat dianggap sebagai konsep pembangunan rendah emisi, efisien dalam pengelolaan sumber daya dan menjunjung tinggi kesetaraan sosial. Dalam konsep ini, pertumbuhan lapangan pekerjaan dan pendapatan harus didorong oleh investasi publik dan swasta yang mengurangi emisi dan polusi, meningkatkan efisiensi pemanfaatan energi dan sumber daya, dan mencegah hilangnya keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem.
Ekonomi Hijau diharapkan dapat menekan kepentingan-kepentingan pasar yang menyalahi aturan keadilan global seperti dominasi kapital atas kaum pekerja, pertumbuhan ekonomi yang menitikberatkan kepada ‘angka’ sementara secara substansial pembangunan itu sendiri terjadi sangat tidak merata. Karenanya ide ekonomi hijau lebihditekankan pada pentingnya pemerataan ekonomi dan pembangunan yang berkelanjutan “sustainable development.”Ketika persoalan perubahan iklim, pemanasan global, kerusakan lingkungan, krisis ekologi, kemiskinan, kesenjangan sosial menjadi isu-isu penting dalam tatanan dunia baru, ruang-ruang negosisasi menuntut semua pihak terkait bahkan negara-negara superpower untuk duduk dalam satu kepentingan bersama, yaitu menyelamatkan dunia. Perilaku-prilaku politis yang sifatnya egosentris dan mengedepankan otoritas dapat ditekan dengan merekonstruksi kebijakan-kebijakan ekonomi yang mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan semua kalangan.
Agenda Rio+20 adalah salahsatu bentuk realisasi dari praktek-praktek demokrasi di tatanan global untuk tujuan-tujuan politis melalui isu-isu ekonomi dan lingkungan, menindaklanjuti pertemuan Rio Earth Summit 1992, yang menghasilkan kesepakatan dimana kebijakan-kebijakan ekonomi diharapkan melibatkan peran institusi-institusi ekonomi dunia, serta pentingnya regulasi-regulasi pemerintahan yang didahului oleh komitmen dan konsistensi para pembuat kebijakan.Dengan demikian, Pertemuan Rio+20 dengan isu Green Economy mampu menjadi strategi keamanan tersendiri, yang mengedepankan penyelesaian masalah-masalah lingkungan global serta menjawab kegagalan pasar sebagai isu ekonomi-politik sesungguhnya dapat meningkatkan tumbuhkembangnya budaya berdemokrasi di tatanaan dunia.
4.    Aspek Teknologi.
ASPEK TEKNIK DAN TEKNOLOGI.
Tujuan studi aspek ini adalah untuk meyakini apakah secara teknis dan pilihan teknologi, rencana bisnis dapat dilaksanakan secara layak atau tidak layak , baik pada saat pembangunan proyek atau operasional secara rutin
Di artikel ini kami akan memaparkan studi aspek dan teknologi, yaitu:
1.      Penentuan strategi produksi , dan perencanaan produk
2.      Proses pemilihan teknologi untuk produksi
3.      Penentuan kapasitas produksi yang optimal
4.      Letak pabrik dan layoutnya, dan tata letak usaha dan layoutnya.
5.      Rencana operasianal dalam hal jumlah produksi.
6.      Rencana pengendalian persediaan bahan baku dan barang jadi.
7.      Pengawasan kualitas produk, baik dalam bentuk barang ataupun jasa
A.    Masalah Manajemen Operasional

Manajemen operasional adalah suatu fungsi atau kegiatan manajemen yang meliputi perancanaan, organisasi staffing, koordinasi, pengarahan, dan pengawasan terhadap operasi perusahaan. Operasi ini merupakan suatu kegiatan ( didalam perusahaan ) untuk mengubah masukan menjadi keluaran, sehingga keluarannya akan lebih bermanfaat dari masukannya. Keluaran tersebut dapat berupa barang dan / atau jasa. Tugas menajemen di perusahaan adalaha untuk mendukung manajemen dalam rangka pengambiulan keputusan masalah-masalah produksi/operasi.

Ada tiga masalah pokok yang dihadapi perusahaan, yaitu:
o   Masalah penentuan posisi perusahaan.penetuuan posisi perusahaan dalam masyarakat bertujuan agar keberadaan perusahaan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan dapat dijalankan secara ekonomis, efektif dan efsien.
o   Masalah desain. Masalah desain akan mencakupo perancangan fasilitas operasi yang akan digunakan. Untuk mengatasi masalah ini, hendaknya dilakukan pengambilan keputusan di bidang rancang bangun ( design ) . Untuk proses manufaktur yang menghasilkan barang, keputusan ini antara lain meliputi; perencanaan letak pabrik, proses operasi, teknologi yang digunakan, rencana kapasitas mesin yang akan dipakai, perencanaan bangunan, tata-letak ( layout ) ruangan, dan linkungan kerja.
o   Masalah operasional. Masalah operasional timbul biasanya pada saat proses produksi sudah berjalan. Untuk proses manufaktur yang menghasilkan barang, keputusan terhadap masalah operasional ini antara lain : rencana produksi, rencana persediaan bahan baku, penjadwalan kerja pegawai, pengawasan kualitas dan pengawasan biaya produksi.

B.     Masalah Proses Produksi Dan Operasi

Persoalan-persoalan dalam proses prosduksi/operasi ternyata cukup banyak dan kompleks. Namun, Persoalan-persoalan itu akan dipilah-pilah, dan disesuaikan dalam studi kelayakan bisnis. Untuk Proses manufaktur, persoalan – persoalan dalam proses tersebut dikelompokan sesuai dengan masalah manajemen operasional diatas, sebagai berikut:
Kelompok Masalah Posisi Perusahaan, persoalan-persoalan utamanya adalah:
1. Pemelihan strategi produksi
2. Pemilihan dan perencanaan produk
3. Perencanaan kualitas.

Berikut paparanya :
1. Pemilihan Startegi Produksi
Agar barang/jasa yang diproduksi akan memenuhi kebutuhan konsumen, biasanya didahului dengan suatu kegiatan penelitian pasar dan pemasaran. Dari masukan penelitian pasar dan pemasran ini, berikutnya akan ditetapkan macam-macam produk yang menjadi alternatif untuk dibuat, selanjutnya akan dikaji pula kaitanya dengan aspek-aspek yang lain, seperti aspek keuangan dan seterusnya.
2. Pemilihan dan Perencanaan Produk
Setelah beberapa alternatif ide produk tersaring,selanjutnya akan dikaji produk ( beberapa produk ) apa yang menjadi prioritas untuk diproduksi. Biasanya, untuk menetapkan produk ( produk-produk ) tersebut akan dilakukan melalui tahapan – tahapan pekerjaan , tahapan itu meliptuti :

a. Penentuan Ide Produk dan Seleksi
Pasa intinya, aspek pasar dan pemasaran untuk mengetahui apakah ide-ide produk diperkirakan untuk mengetahui apakah perusahaan mampu membuat produk tersebut dengan segala sumber daya yang dimilikinya. Sedangkan untuk aspek keuangan, adalah meniliai apakah produk tersebut jika dihasilkan akan mendatangkan keuntungan yang sesuai dengan harapan.

b. Pembuatan Desain Produk Awal
Dalam produksi barang, gambaran desain awal akan lebih jelas bila dibandingkan dengan produk jasa. Dalam membuat desain produk awal ini, hendaknya dipertimbangkan hal-hal seperti: manfaat produk yang akan dibuat, fungsi yang hendaknya dimiliki barang agar menunjang manfaat-manfaatnya, desain, seni, dan estitika barang yang akan diproduksi. Desain produk awal ini akan ditindaklanjuti menjadi produk yang lebih mnedekati sebenarnya.

c. Pembuatan Prototip dan Pengujian
Prototip adalah produk yang dibuat sebagai produk percobaan sebelum produk dibuat secara besar-besaran. Ia berguna untuk menilai kemampuan produk agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.Semetara itu, pengujian dilakukan untuk mengetahui apakah prototip ini sudah dapat diimplementasikan atau belum. Jika belum, masih dapat diperbaiki lagi, lalu diuji lagi dan seterusnya sehingga prototip ini sesuai dengan harapan. Akhirnya, terciptalah desain produk akhir yang siap unutk diimplementasikan.
d. Implementasi
Tahap ini mecoba untuk menilai apakah produk yang sudah diproduksi dan ditawarkan di pasar memiliki masa depan yang baik.
3. Perencanaan Kualitas
Kualitas produk merupakan hal penting bagi konsumen. Perusahaan hendaknya menentukan suatu tolak ukur rencana kualitas produk dari tiap dimensu kualitasnya. Dimensi kualitas produk dapat dipapaekan berikut ini:

a. Produk Berupa barang
Menurut david garvin, yang dikutip Vincent Gaspersz, menentukan dimensi kualitas barang dapat dilkakukan melalui delapan dimensi seperti berikut ini:
·         Performance, hal ini berkaitan dengan aspek fungsional suatu barang dan merupakan karateristik utama yang dipertimbangkan pelanggan dalam membeli barang tersebut
·         Features, yaitu aspek performasi yang berguna untuk menambah fungsi dasar, berkaitan dengan pilihan-pilihan produk dan pengembangnya.
·         Reliablility, hal yang berkaitan dengan probablitas atau kemungkinan suatu barang berhasil menjalankan fungsinya setiap kali digunakan dalam periode waktu tertentu dan dalam kondisi tertentu pula.
·         Confermance, hal ini berkaitan dengan tingkat kesesuaian terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan pada keinginan pelanggan.
·         Durability, yaitu suatu refleksi umur ekonomis berupa ukuran daya tahan atau masa pakai barang.
·         Serviceability, yaitu karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan, kompentensi, kemudahan, dan akurasi dalam memberikan layanan untuk perbaikan barang
·         Aesthetics, merupakan karakteristik yang bersifat subjektif mengenai hal-hal estetika yang berkaitan dengan pertimbangan pribadi dan refleksi dari prefensi individual.
·         Fit and finish, suatu sifat subjektif, berkaitan dengan perasaan pelanggan mengenai keberadaan produk tersebut sebagia produk yang berkualitas.
b. Produk Jasa/ Servis
Zeithaml et. al. mengemukakan lima dimensi dalam menentukan kualitas jasa, yaitu :
·         Reliability, yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan yang sesuai dengan janji yang ditawarkan.
·         Responsiveness, yaitu respon atau kesigapan karyawan dalam membantu pelanggan dan memberikan pelayanan yang cepat dan tanggap.
·         Assurance, meliputu kemampuan karyawan atas: pengetahuan terhadap produk secara tepat, kualitas keramah-tamahan, perhatian dan kesopanan dalam memberi pelayanan, keterampilan dalam memberikan informasi, kemampuan dalam memberikan informasi, kemampuan dalam memberikan keamanan didalam memanfaatkan jasa yang ditawarkan, dan kemampuan dalam menanamkan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan. Dimensi ini merupakan gabungan dari dimensi kompetensi, kesopanan, dan kredibilitas.
·         Emphaty, yaitu perhatian secara individual yang dibeikan perusahaan kepada pelanggan seperti kemudahan untuk menguhubungi perusahaan, kemampuan karyawan untuk berkomonikasi dengan pelanggan, dan usaha perusahaan untuk memahami keinginan dan kebutuhan pelangganya. Dimensi emphaty ini merupakan gabungan dari dimensi Akses, Komunikasi dan Pemahaman pada Pelanggan.
·         Tangibles, meliputi penampilan fasilitas fisik seperti gedung dan ruangan frontoffice, tersedianya tempet parkir, kebersihan, kerapihan dan kenyaman , kelengkapan peralatan komunikasi dan penampilan karyawan. http://erwinhariyanto.wordpress.com/2011/04/10/aspek-teknik-dan-teknologi/
5.      Tingkat Perputaran Aktiva.
Pengertian Perputaran Aktiva Tetap .

Pada dasarnya di setiap perusahaan, aktiva tetap memiliki makna dan arti yang sama, meskipun banyak cara orang mengungkapkan aktiva tetap dengan istilah yang berbeda-beda, perbedaan tersebut disesuaikan dengan cara memandang aktiva itu oleh badan organisasi atau perusahaan yang menggunakannya.
Rasio perputaran aktiva tetap digunakan oleh manajemen perusahaan untuk mengukur efisiensi penggunaan aktiva tetap dalam menunjang kegiatan penjualan perusahaan. Menurut Munawir (2004; 240), mengemukakan bahwa :
”Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Assets Turn Over) yaitu rasio antara penjualan dengan aktiva tetap bersihnya.”
Dapat juga di rumuskan dengan :
Sumber : Munawir (2004;240)
Sedangkan menurut R. Agus Sartono (2002; 120), menjelaskan bahwa :
”Perputaran aktiva tetap adalah rasio antara penjualan dengan aktiva tetap neto. Rasio ini menunjukan bagaimana perusahaan menggunakan aktiva tetapnya seperti gedung, kendaraan, mesin-mesin, perlengkapan kantor.” Berdasarkan kedua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa perputaran aktiva tetap adalah perbandingan antara penjualan dengan aktiva tetap neto pada suatu perusahaan. Rasio perputaran aktiva tetap menunjukan bagaimana perusahaan menggunakan aktiva tetapnya seperti gedung, kendaraan, mesin-mesin, perlengkapan kantor dalam menunjang penjualan perusahaan.
Pengertian Perputaran Piutang .
Untuk mendukung misi perusahaan, salah satunya adalah dengan melakukan penjualan kredit yang secara tidak langsung dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan. Dari penjualan kredit tersebut dapat menimbulkan adanya piutang. Semakin besar proporsi dan jumlah kredit, semakin besar pula piutang yang dimiliki oleh perusahaan, apabila hal-hal lain tetap. Dimaksudkan dengan hal-hal lain ini adalah para langganan tidak merubah kebiasaan mereka dalam melunasi utang mereka. Meskipun piutang bisa terbentuk tidak dengan penjualan kredit, seperti para karyawan yang mengajukan permohonan pinjaman kepada perusahaan, perusahaan lain meminjam uang kepada perusahaan tersebut tanpa ada hubungannya dengan transaksi penjualan. Tetapi dalam penelitian ini, penulis membicarakan piutang dalam perusahaan. Pada beberapa perusahaan, piutang merupakan hal yang sangat penting dan memerlukan analisis yang seksama. Bambang Riyanto (2008;85) mengemukakan bahwa penjualan kredit tidak segera menghasilkan penerimaan kas, tetapi menimbulkan piutang langganan. Piutang merupakan hak untuk menagih sejumlah uang dari si penjual kepada si pembeli yang timbul karena adanya suatu transaksi. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam buku PSAK No. 9 : “Bahwa sumber terjadinya piutang
digolongkan dalm dua kategori, yaitu piutang usaha dan piutang lain-lain. Piutang usaha meliputi piutang yang timbul karena penjualan-penjualan pokok atas penyerahan jasa dalam rangka kegiatan usaha normal perusahaan. Piutang yang timbul dari transaksi di luar usaha kegiatan perusahaan digolongkan piutang lain-lain”.
Perputaran piutang adalah rasio yang memperlihatkan lamanya waktu untuk mengubah piutang menjadi kas (Bambang riyanto, 2008:90). Putaran piutang dihitung dengan membagi penjualan kredit bersih dengan saldo rata–rata piutang. Piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan mempunyai hubungan erat dengan volume penjualan kredit. Posisi piutang dapat dihitung dengan menggunakan rasio perputaran piutang.
Metodologi Penelitian
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis dengan pendekatan kuantitatif, yaitu hasil penelitian yang kemudian diolah dan dianalisis untuk diambil kesimpulannya, artinya penelitian yang dilakukan adalah penelitian yang menekankan analisisnya pada data-data numeric (angka), dengan menggunakan metode penelitian ini akan diketahui hubungan yang signifikan antara variabel yang diteliti, sehingga menghasilkan kesimpulan yang akan memperjelas gambaran mengenai objek yang diteliti.
Desain Penelitian.
  
Desain penelitian merupakan rancangan
penelitian yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan proses penelitian. Desain penelitian akan berguna bagi pihak-pihak yang terlibat dalam proses penelitian.
Operasionalisasi Variabel
Menurut Sugiyono (2010:38), menjelaskan bahwa:
“Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.
Operasionalisasi variabel diperlukan untuk menentukan jenis, indikator, serta skala dari variabel-variabel yang terkait dalam penelitian, sehingga pengujian hipotesis dengan alat bantu statistik dapat dilakukan secara benar, maka dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang digunakan yaitu:

1. Variabel Independent (X)

Menurut Sugiyono (2010:39) variabel independen atau variabel bebas yaitu:
“Variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat)”.
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independent (X1) dan (X2) adalah Perputaran Aktiva Tetap dan Perputaran Piutang.


2. Variabel Dependent (Y)

Menurut Sugiyono (2010:33) variabel dependen atau terikat yaitu:
“Variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.”
Dalam penelitian ini yang menjadi va-riabel dependent (Y) adalah Profitabilitas.
Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rasio, berikut ini penjelasan mengenai rasio.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar